Baiti Jannati

Bertumbuhlah, Nak!

I’m not a mother-yet, biologically.

Tapi saya punya sembilan belas anak, ponakan.
Beberapa, saya lihat tumbuh kembangnya sejak kecil karena rumah yang berdekatan.
Satu dari sembilan belas, tidur di pelukan saya sejak lahir hingga satu bulan.

Saya tahu, betapa menggemaskannya bayi yang tidak bisa melawan itu.
Dicium, dipeluk, diuyel-uyel, tidak ada penolakan.
Hampir semua waktunya dihabiskan bersama kita dan memang masa ini tidak dapat diulang lagi.

Seberapa pun menggemaskannya mereka saat kecil, kalimat-kalimat seperti, “Jangan cepat gede, Nak” adalah kalimat yang berusaha saya hindari dan sebisa mungkin tidak diucapkan.
Karena ucapan adalah do’a, saya ingin mereka tumbuh dengan baik.

Tumbuh dan berkembanglah, anak-anakku.
Bertumbuhlah menjadi anak yang sholeh dan sholehah, sehat dan cerdas.

A reminder to me, my family, and society.

With ♥️,
Amah Rifa

Baiti Jannati

Body Shaming

Seringkali body shaming terjadi dan dimulai justru dari keluarga sendiri.

Gendut banget. Kurus banget. Rambutnya tipis banget. Rambutnya ikal banget.

Dan berbagai kalimat serupa lainnya yang biasanya diucapkan sebagai basa basi belaka atau bentuk kegemasan semata. Hal ini sulit dihindari apalagi saat ada acara kumpul keluarga besar, contohnya seperti kemarin.

Ponakan saya yang berusia 4 tahun hadir di acara keluarga. Banyak keluarga jauh yang datang. Dia, diajak untuk kenal dengan keluarga dan salim dengan orang yang lebih tua. Anaknya sih nurut, pinter banget dia. Tapi setiap kali melihat dia, dia justru mendapat kalimat seperti, udah besar ya sekarang, gendut banget, gede banget badannya”, dan semisalnya.

Saya sih tau itu adalah ungkapan kegemasan dan ketakjuban karena lama tak bertemu dia. Jangankan mereka, Saya, Amahnya yang sekarang buat ketemu satu minggu sekali saja susah, kadang takjub dengan tumbuh kembangnya. Kadang secara tidak sadar ikut mengomentari fisiknya. Alhamdulillah, pas ketemu keluarga dan ditanya-ditanya, dia masih mau jawab meskipun badannya kadang kesana kemari, entah karena ogah-ogahan atau bete tapi dia masih jawab. 😅

Saya yang agak risih dengan segala ungkapan itu. Kenapa?

Karena minggu sebelumnya waktu saya nengokin dia, dia cerita, ada orang dewasa (bukan keluarga tapi saya lupa siapa) yang sering ngatain dia gendut, dia marah, nggak suka. Waktu itu saya cuma bisa bilang, “Kalau nanti ada yang bilang kamu gendut, jawab aja, tapi Aku sehat“.

Eh, seminggu kemudian dia malah terima komen sejenis itu dari banyak orang yang notabene keluarga. Dia belum cukup mengerti bahwa ini bukan ejekan. Tapi karena saya sudah dengar cerita dari dia, anak 4 tahun ini cerita ketidaksenangannya dibilang gendut, saya cuma berharap dia tidak terlalu mendengar.

Emangnya kenapa sih dengan ungkapan-ungkapan itu?

Secara tidak sadar itu adalah bentuk body shaming yang kita lakukan terhadap anak kecil yang juga punya perasaan. Secara tidak sadar kita sedang menyakiti perasaannya. Perasaan sakit hati ini bisa membuat dia tidak percaya diri, membuat dia tidak mencintai dirinya sendiri.

Berdasarkan pengalaman orang yang saya tahu, pernah dengar/baca cerita orang lain juga. Rasa sakit hati ini benar-benar tersimpan hingga dewasa. Dan tak mudah akhirnya untuk membuat dia mencintai dirinya sendiri dan menghargai apa yang sudah Allah kasih ke dia.

Sejak tahu bahwa ada rasa insecure yang muncul setelah mendapat body shaming, bahwa ada orang yang trauma karena body shaming, mendengar curhatan ponakan kecil saya, saya jadi lebih berhati-hati berucap terutama saat bertemu dia. Semoga bisa jadi pengingat juga saat saya bertemu keluarga, melihat anak orang lain, atau siapapun agar tidak mengomentari fisiknya. Karena sebenarnya, mengomentari fisiknya juga sedang mengomentari Penciptanya.

Saya berharap ponakan-ponakan saya tumbuh jadi anak sholeh/sholehah, sehat, cerdas dan mensyukuri apapun yang ada pada dirinya. Menjadi anak yang menyejukkan hati dan pandangan orang di sekitarnya. Menjadi anak yang mengantar orangtua dan keluarganya ke-Syurga. Amiin Ya Rabbal ‘Alamin.

Kepada semua keluarga atau orang yang pernah kenal saya, saya mohon maaf jika dulu atau selama ini pernah terucap kalimat bernuansa body shaming dari mulut saya, baik sengaja ataupun tidak.

Stop Body Shaming, dimulai dari mulut kita sendiri.

Stop Body Shaming, dimulai dari keluarga kita sendiri.

Salam,

Amahrifa

Baiti Jannati

090719: Kue Ta’aruf dan Box Cantik

9 Juli 2019

Pulang kerja tiba-tiba suami nyamperin ke dapur sambil ngasih plastik isinya kock bulutangkis.

Ngapain di kasih ke saya?” Saya bilang.

Iya, sebelumnya dia emang udah ngasih tau kalau mau beli kock bulutangkis dulu sebelum pulang, buat main besok sama teman-temannya.

Ternyata isi plastiknya nggak cuma kock. Ada kotak hadiah warna biru berpita pink juga.

Surprise..

Saya nggak bisa mengontrol tawa bahagia sumringah nan membahana.

Terus dia bilang, “Ayo guling-guling dulu“. 🤣🤣🤣

Belum selesai sampai di situ. Pas masuk kamar. Saya dapati kotak Brownies Amanda Coklat Keju di atas kasur. Saya langsung terbaring senang, hampir guling-guling. Hahahaha.

Senang sekali saya dikasih surprise dan semua ini ada cerita sebelumnya.

Beberapa hari yang lalu saya iseng nanya Suami, “Tanggal 9 Juli nanti mau dikasih surprise nggak? Mau dibeliin bunga?“. Mau ngasih surprise kok ngasih tau kan nggak niat banget. Hahaha.

Teruus soal Brownies.

Pagi tanggal 9 Juli itu saya sempat melas sama Suami, minta dibeliin kue ta’aruf.

Yang, nanti beli kue ta’aruf yok?

Apa? Untuk-untuk?

Bukaan itu.. Eh iya sih, kue ta’aruf sebenarnya memang untuk-untuk ya, kalau brownies itu kue interview. Hahaha

Jadi ceritanya, dulu waktu dia pertama kali ketemu Alm. Kakak Saya sebelum kita ta’aruf, dia bawa Brownies Amanda Coklat Keju sebagai buah tangan. Setelah pertemuan itu, kuenya di bawa Kakak saya ke rumah Abah. Dan setelah kami menikah, kalau liat Brownies Amanda Coklat Keju, Ponakan saya selalu bilang itu Kue Ta’aruf. Jadilah Brownies Amanda itu dapat gelar kue ta’aruf. Setelah diingat lagi, pas dia ta’aruf sama saya itu kue yg ada sebenarnya memang kue untuk-untuk. Tapi Brownies Amanda sudah kadung jadi Kue Ta’aruf. Wkwk.

Kotak cantik itu…

Jauuh hari sebelumnya kami pernah mampir ke toko alat tulis, nyari keperluan saya dan hadiah buat ponakan. Di sudut toko itu ada pojok khusus kotak hadiah dan kertas kado cantik. Pas liat kotak-kotak lucu itu seingat saya, saya bilang gini, “Nanti mau dong Yang dikasih hadiah pakai ini“.

Dan benar aja, hadiah di Hari Anniversary kemaren beli di toko itu plus kotak cantiknya juga.

What a Man banget sih kamu Bojojojo~ 😘

Jazakallahu khairan katsir 🤗

Love,

Bojojoy

Baiti Jannati

Dear Bojojojo…

Dear Bojojojo…

Semoga Allah selalu memberkahi pernikahan kita, menjadikan kita keluarga Sakinah Mawaddah wa Rahmah dan suatu saat nanti menganugerahkan kita keturunan yang sholeh dan sholehah.

Jazakallahu khairan katsir, Ya Habibi.
Untuk segala-mu selama dua tahun ini dan seterusnya, insya Allah.

Semoga Allah selalu melindungimu dan kita semua di manapun berada.

Semoga Allah balas segala kebaikan yang engkau berikan selama ini dengan sebaik-baik balasan.

Semoga kita selalu bisa saling membersamai dalam kebaikan dan ketaatan.

Semoga segala apa yang kita cita-citakan mendapat Ridho Allah dan membawa kebaikan.

Semoga Allah kumpulkan kita kembali di Syurga-Nya sebagai Suami Istri, bersama keluarga besar kita.

Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin..

Kiss n Hug,
Bojojoy

Baiti Jannati

Kumpulan Gombalan Bojojojo

Menggombal jangan menggombal~~

Kepada siapa saja~~

Menggombal boleh sajaaa~~

Tapi ada syaratnya~~

*tolong dibaca dengan melodi Lagu Begadang dari Bang Haji Rhoma Irama

Hahaha 🤣🤣🤣

Sengaja saya tulis karena ini adalah hal yang patut diingat. Gombalan dari laki-laki yang sah.

Coba aja gombalin saya sebelum jadi suami, bakal langsung di blacklist dari bursa calon suami. Wkwkwk.

Btw, ini ditulis pakai Bahasa Banjar, seasli dan seingat saya, mungkin ada kurang lebih tapi esensinya sama, kalau pakai Bahasa Indonesia saya rasa jadi kurang feelnya, sorry ya kalau ada yang nggak ngerti. 🙏

👩: Kaya ada sarang laba-laba tuh.
👨: Pian ada sarang jua.
👩: Saranghaeyo~~~
👨👩: 🤣🤣🤣

👩👨: *bepanderan alat panah*
👨: nukar kekeran nya kada lah?
👩: maka pian sudah lihai mengeker?
👨: itu kan mengeker piaaan~
👩👨: 🤣🤣🤣

👩: pian ketuju kada begula lo donatnya?
👨: iya
👩: kada tapi manis donatnya tuh
👨: makannya sambil kaya ini nah *menyuap donat* *meliati bininya*
👩: 😶

👩: Yang, ada kritik dan saran kah sagin ulun?
👨: Saran? Saran-haeyo
👩: Buahahaha 🤣🤣🤣

(Sementang bini ketuju Korea lalu ja saranghaeyo tarus. Wkwk)

👨: *lagi makan amplang*
👩: nyaman tuh
👨: iih, kuku macan
👩: *nampaikan kuku*
👨: ihiiiy macan..
👩: hah?? *sambil minum*
👨: macan. Marhamah Cantik
👩: buhakakak *hampir muak*

Sekian beberapa gombalan yang berhasil diingat dan dicatat. Insya Allah akan saya update di kesempatan yang akan datang kalau ada yang baru. Hahaha. Sekian.

Salam senang mesem-mesem,

Bojojojo