Baiti Jannati

Body Shaming

Seringkali body shaming terjadi dan dimulai justru dari keluarga sendiri.

Gendut banget. Kurus banget. Rambutnya tipis banget. Rambutnya ikal banget.

Dan berbagai kalimat serupa lainnya yang biasanya diucapkan sebagai basa basi belaka atau bentuk kegemasan semata. Hal ini sulit dihindari apalagi saat ada acara kumpul keluarga besar, contohnya seperti kemarin.

Ponakan saya yang berusia 4 tahun hadir di acara keluarga. Banyak keluarga jauh yang datang. Dia, diajak untuk kenal dengan keluarga dan salim dengan orang yang lebih tua. Anaknya sih nurut, pinter banget dia. Tapi setiap kali melihat dia, dia justru mendapat kalimat seperti, udah besar ya sekarang, gendut banget, gede banget badannya”, dan semisalnya.

Saya sih tau itu adalah ungkapan kegemasan dan ketakjuban karena lama tak bertemu dia. Jangankan mereka, Saya, Amahnya yang sekarang buat ketemu satu minggu sekali saja susah, kadang takjub dengan tumbuh kembangnya. Kadang secara tidak sadar ikut mengomentari fisiknya. Alhamdulillah, pas ketemu keluarga dan ditanya-ditanya, dia masih mau jawab meskipun badannya kadang kesana kemari, entah karena ogah-ogahan atau bete tapi dia masih jawab. 😅

Saya yang agak risih dengan segala ungkapan itu. Kenapa?

Karena minggu sebelumnya waktu saya nengokin dia, dia cerita, ada orang dewasa (bukan keluarga tapi saya lupa siapa) yang sering ngatain dia gendut, dia marah, nggak suka. Waktu itu saya cuma bisa bilang, “Kalau nanti ada yang bilang kamu gendut, jawab aja, tapi Aku sehat“.

Eh, seminggu kemudian dia malah terima komen sejenis itu dari banyak orang yang notabene keluarga. Dia belum cukup mengerti bahwa ini bukan ejekan. Tapi karena saya sudah dengar cerita dari dia, anak 4 tahun ini cerita ketidaksenangannya dibilang gendut, saya cuma berharap dia tidak terlalu mendengar.

Emangnya kenapa sih dengan ungkapan-ungkapan itu?

Secara tidak sadar itu adalah bentuk body shaming yang kita lakukan terhadap anak kecil yang juga punya perasaan. Secara tidak sadar kita sedang menyakiti perasaannya. Perasaan sakit hati ini bisa membuat dia tidak percaya diri, membuat dia tidak mencintai dirinya sendiri.

Berdasarkan pengalaman orang yang saya tahu, pernah dengar/baca cerita orang lain juga. Rasa sakit hati ini benar-benar tersimpan hingga dewasa. Dan tak mudah akhirnya untuk membuat dia mencintai dirinya sendiri dan menghargai apa yang sudah Allah kasih ke dia.

Sejak tahu bahwa ada rasa insecure yang muncul setelah mendapat body shaming, bahwa ada orang yang trauma karena body shaming, mendengar curhatan ponakan kecil saya, saya jadi lebih berhati-hati berucap terutama saat bertemu dia. Semoga bisa jadi pengingat juga saat saya bertemu keluarga, melihat anak orang lain, atau siapapun agar tidak mengomentari fisiknya. Karena sebenarnya, mengomentari fisiknya juga sedang mengomentari Penciptanya.

Saya berharap ponakan-ponakan saya tumbuh jadi anak sholeh/sholehah, sehat, cerdas dan mensyukuri apapun yang ada pada dirinya. Menjadi anak yang menyejukkan hati dan pandangan orang di sekitarnya. Menjadi anak yang mengantar orangtua dan keluarganya ke-Syurga. Amiin Ya Rabbal ‘Alamin.

Kepada semua keluarga atau orang yang pernah kenal saya, saya mohon maaf jika dulu atau selama ini pernah terucap kalimat bernuansa body shaming dari mulut saya, baik sengaja ataupun tidak.

Stop Body Shaming, dimulai dari mulut kita sendiri.

Stop Body Shaming, dimulai dari keluarga kita sendiri.

Salam,

Amahrifa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s