Hobby

Kenapa Drama Korea?

Beberapa minggu yang lalu ada teman yang tanya, “Apa yang membuat kamu suka nonton drama Korea?.

Saya jawab sekenanya tapi berusaha setepatnya,
“Karena ceritanya unik, kreatif, nggak kayak sinetron Indonesia.
Nggak melulu soal cinta. Terus pemainnya juga ganteng-ganteng, tapi itu bonus sih.” jawab saya dengan penuh semangat. 😀

Saya memang selalu bersemangat kalau membahas sesuatu yang saya senangi.
Beberapa minggu lalu juga, orang yang baru saya kenal karena urusan pekerjaan, menyapa saya setelah melihat postingan saya soal drama Korea.
Rasanya itu kaya ketemu teman lama, bisa cerita banyak kalau soal drama.
Bukan satu, tapi dua orang.
Katanya memang seperti itu kan, orang dengan interest yang sama biasanya bakal nyambung kalau bercerita.
Meskipun itu adalah pertemuan pertama.

Back to topic ya. Drama Korea.

Entah ini sudah tahun ke berapa saya menggeluti hobi ini.
Iya hobi, karena saya senang melakukannya.

Sudah banyak fase saya lalui sampai di titik ini.
Dari yang hanya sekedar nonton di tv berlanjut ke penyewaan dvd.
Dari sewa dvd asli sampai nonton dari dvd bajakan.
Dari modal cd kosong atau flashdisk sampai punya harddisk external kapasitas satu tera.
Dari cuma bisa copy-paste dari teman sampai bisa download sendiri.
Dari download file kecil-satu episode empat part plus engsub sampai akhirnya download file agak besar dengan sub terpisah.
Dari Forum IDWS sampai akhirnya kenal Smallencode dan Subscene.
Dari harddisk external rusak, harddisk laptop penuh sampai saya memilih streaming.
Dari modal gratisan 30 hari sampai akhirnya saya berlangganan VIU.

Belum lagi kegalauan-kegalauan pencinta drama yang hampir semua pernah saya alami.
Galau antara nonton drama ongoing atau kelar dulu baru nonton.
Galau antara nonton satu drama atau beberapa drama di satu waktu.
Galau antara membela tokoh utama atau second lead male yang selalu tersakiti.
Galau antara #timjungpal atau #timtaek (untung waktu itu netral. haha)

Sudah berapa judul drama yang ditonton?
Saya tak pernah menghitung.

Yang jelas sudah beragam genre yang saya tonton.
Dari yang paling receh sampai yang paling serius.
Dari cerita cinta anak SMA sampai cerita keluarga.
Dari cerita unfaedah sampai cerita yang penuh makna.
Dari cerita yang terasa sangat nyata sampai cerita yang cuma khayalan semata.
Dari cerita masa kini, masa lalu sampai masa depan.
Dari cerita zaman penjajahan sampai zaman produk hi-end menghiasi drama sebagai iklan.

Kisah cinta bak cinderella, gadis miskin dan lelaki kaya yang kemudian tak direstui orang tua, itu sudah berlalu lama.
Awal-awal nonton drama korea, cerita ini begitu menarik memang.
Saat ini, pemain tampan dan cantik bukan lagi prioritas utama.
Keunikan dan kekuatan cerita, kelihaian aktor dan aktris membawakan perannya, makna yang tersembunyi di balik sebuah drama, lebih menarik bagi pencinta drama generasi tua.

Drama korea tak melulu soal cinta meskipun nampaknya kisah cinta selalu asik dibuat cerita. Apapun profesi yang dibahas kalau ada kisah cintanya itu rasanya semakin asik saja.

Saya pernah nonton drama yang hanya sedikit menambahkan kisah cinta.
Adapula yang tak memasukkannya kisah cinta sama sekali di sepanjang drama.
Ada juga drama yang memaksakan memasukkan kisah cinta padahal tidak perlu, menurut pemirsa.

Semakin ke sini drama korea semakin beragam dan kreatif dari segi cerita.
Tak jarang mereka me-remake drama dari negara lain, sesama Asia seperti China dan Jepang, atau bahkan dari serial barat.
Tiap negara punya ciri khas dalam membuat drama, dorama, atau serial.
Mereka memiliki kekuatan atau kelebihan serta kekurangan masing-masing.
Tanpa bermaksud apa-apa, sinetron di Indonesia belum saya temukan kelebihannya kecuali episode yang berjuta-juta.

Setiap stasiun tv di Korea berlomba-lomba untuk memproduksi drama.
Kalau kalian sudah terbiasa nonton drama pasti tahu persaingan rating di sana.
Kadang saya temui kecendrungan membuat drama dengan genre yang mirip di waktu tayang yang hampir bersamaan.

Di Korea, satu judul drama itu biasanya hanya diputar 2 kali dalam satu minggu.
Durasi per hari sekitar 1 sampai 1 setengah jam.
Saat ini, kalau tidak salah ada peraturan baru, tapi tampaknya khusus stasiun tv nasional.
Penayangan drama per episode hanya 30 menit, jadi satu hari diputar 2 episode, padahal sama dengan satu episode yang dibagi menjadi dua.
Jadi, per minggu bisa jadi 4 episode dengan durasi 30 menit untuk stasiun tv nasional atau 2 episode dengan durasi satu jam untuk tv-tv berbayar.

Terus di Korea itu juga, satu drama kelarnya cepat. Nggak sampai menahun.
Kalaupun ada sampai tahun depannya, ya itu karena tayangnya di akhir tahun. Hahaha
Ada yang episodenya sampai ratusan, biasanya drama keluarga, tapi nggak banyak yang gitu.
Yang paling diminati itu drama 16 atau 20 episode (dengan durasi 1 jam).
Drama tema sejarah biasanya lebih panjang, bisa sampai 40an episode.
Tapi orang Korea kayaknya menikmati drama yang mengisahkan sejarah mereka.
40 episode itu biasa, karena memang sejarah itu panjang kan?

Kalau memang ceritanya mau diperpanjang, mereka lebih memilih untuk dibuat season selanjutnya.
Bisa juga dibikin series dengan cerita dan pemain yang berbeda tapi dengan tema yang kurang lebih sama.
Kadang ada juga cerita before-after the story-nya dibikin satu drama berbeda lagi.
Yang kayak gini biasanya sih drama sejarah, drama yang satu berkaitan dengan drama yang lain.
Misal, di drama A cerita Sang Pangeran, di drama B kisah Sang Raja (Bapaknya Pangeran di drama A).

Asik kan? Jadi kelihatannya nggak monoton, nggak bosan juga yang nonton.
Paling cepat 2 sampai 3 bulan, sudah selesai satu cerita atau satu drama.
Ganti lagi cerita baru yang lebih fresh.

Satu lagi, setahu saya, Korea itu membuat drama dengan melakukan riset sebelumnya.
Terutama untuk tema-tema yang memerlukan riset, seperti kedokteran, hukum, sejarah, mungkin.
Intinya, mereka itu nggak asal kalau tema yang diangkat itu hal yang scientific, apa sih istilah yang tepat ya?
Maksudnya, kalau tema khayalan-khayalan mungkin nggak dibuat seilmiah mungkin, nah ini istilahnya, ilmiah. 😀

Tapi mereka tetap niat bikin drama meski itu hanya sebuah legenda.
Goblin contohnya, itu kan nggak ilmiah banget, tapi bikinnya kan niat banget.
Pakai special effect ala film Hollywood tapi bikin kapal beneran.
Niat lah pokoknya, nggak modal green screen trus edit-edit doang.
Mereka juga bisa habis banyak cuma buat bikin setting. Seniat itu emang.

Karena seringnya menonton, kehidupan para aktor dan aktris juga jadi menarik perhatian.
Persaingan rating pun tak luput dari sorotan, meski tak selamanya jadi patokan.

Rating itu kalau saya tidak salah juga terbagi menjadi dua, penonton di Korea dan penonton di luar Korea.
Terkadang, rating tinggi menurut penonton Korea, tak sejalan dengan rating penonton di luar Korea.
Pernah saya temukan drama dengan rating rendah di sana, tapi cerita sangat menarik menurut saya.
Tapi ini kembali ke selera ya, juga kebiasaan di masing-masing negara.

Sampai saat ini saya masih berharap dan menunggu.
Pertelivisan Indonesia bisa membuat sinetron yang layak tonton.
Karena jujur saja saya tak pernah tahan untuk menonton sinetron Indonesia.
Lebih baik saya nonton Upin-Ipin daripada dari mulut saya keluar kata-kata tak pantas.

Maaf.

Tak perlu mengikuti Korea, karena kita beda budaya.
Indonesia punya hal menarik sendiri yang bisa diangkat menjadi cerita.
Peraturan di negara kita juga mungkin berbeda.

Saya tak jamin pembuat sinetron dengan tema sejarah atau tema politik bisa fine-fine aja di sini.
Mungkin pembuat sinetronnya aman, tapi sinetronnya tak boleh tayang? hmmm…

Kayaknya sempat saya temukan serial yang lumayan bagus yang tayang di tv Indonesia.
Meskipun saya nggak nonton karena selalu kelewat. Yups, buka tv itu sebegitu malasnya.
Ada beberapa tema yang pernah diangkat kayaknya, tapi tak berlangsung lama.
Iya, yang di NET TV itu lo.

Kalau film kayaknya sudah mulai banyak cerita yang bagus.
Saya tertarik tuh sama film Dian Sastro yang baru, temanya makanan indonesia gitu kan?
See? Ada kan yang bisa diangkat jadi cerita bagus?
Mbok ya, sinetron dibikin yang bagus-bagus juga ngapa?

Kalau terlalu suka sama drama korea dan oppa oppa plus ahjussi ahjussi itu kesannya nggak cinta Indonesia gitu ya?

Ya enggak lah.

Saya hidup di Indonesia.
Saya masih cinta Indonesia.
Saya suka makanan Indonesia.
Saya suka sama orang Indonesia, Suami saya Indonesia loh 😀
Sehalu-nya saya dulu, saya masih ingat jati diri kok. Hahahaha.

Dari Pencinta Drama Korea Generasi Tua,

-amahrifa-

ps:
Jangan suka ngatain kita nontonin banci ya, ntar kalau situ mulai suka drama korea trus nyari ke kita, mau taroh di mana tuh muka? :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s