Food · Review

1st Food Review : Ta Wan

Saya nggak hobi makan sih sebenarnya. Makan di luar juga jarang, paling cuma sesekali. Kalau jajan lumayan sering sih. Apa bedanya coba? Hahaha.

Jum’at kemarin makan di Ta Wan sama suami. Kita makannya sambil ngomong udah kaya kritikus makanan tapi ngasal. Jadi terinspirasi deh buat bikin review ala food blogger. Meski nggak sebagus yang pro tapi tulis aja lah ya, sekalian share pengalaman. Hahaha.

Kita berdua nggak pernah makan di sana. Nggak pernah juga dapat rekomen dari teman atau saudara. Jadi kemaren itu kita spekulasi sih. Sebelum masuk juga cek menu dulu di go food. Huahahaha. Menunya ternyata chinese food gitu, bukan favorit saya. Tapi saya liat ada menu daging lada hitam. Ahaaa. Ada menu familiar buat saya, okelah masuk aja.

Suami pernah juga dulu ngajakin ke sana. Tapi saya sempat males karena kayaknya belum ada logo MUI nya. Ini sudah kedua atau ketiga kali dia nyebut Ta Wan pas jalan di mall. Yaudah, diturutin aja. Bismillah.

Sebenarnya saya bukan tipe orang yang suka nyobain rumah makan baru atau jenis makanan baru. Saya lebih senang dengar cerita atau review dari orang terdekat. Baru kemudian mencoba dan menilai sendiri, saya suka atau tidak. Biasanya lidah saudara kurang lebih sama dengan lidah kita. Selera kita mirip-mirip karena kita pernah besar memakan makanan yang sama.

Jadi gimana ceritanya pas di Ta Wan kemaren?

Ta Wan ini salah satu tempat makan yang ada di Duta Mall Banjarmasin. Lokasinya ada di lantai 2 kalau saya nggak keliru. Bukanya sejak kapan saya juga nggak tahu. Saya jarang ke mall, tapi kayaknya ini termasuk baru.

Venuenya terbagi tiga, ada di luar, di dalam, sama di luar lagi. Loh? Haha. Bagian luar yang pertama ada di bagian dalam mall. Bagian luar kedua ada di semacam pelataran mall apa ya, soalnya bisa liat parkiran gitu. Kalo bagian dalam kita bisa liat chefnya masak, sama bayarnya juga di dalam cuy πŸ˜‚

Kita kemaren milih duduk di dalam. Dekat orang bikin minuman. Sebelum pintu menuju bagian luar kedua. Apasih? 🀣 Pas sudah duduk kita dikasih buku menunya. Lumayan lama kita milih karena ternyata menunya banyak. Dimulai dari menu bubur-buburan, lelautan, daging-dagingan, ayam-ayaman, sayur-sayuran, sup-supan, dan terakhir minuman.

Sayang banget saya nggak foto buku menunya. Emang nggak biasa sih moto-moto makanan gitu, rada malu juga, apalagi motoin buku menunya, buat apa coba? Hahaha. Kalau orang yang emang mau review makanan kan biasanya dari menunya, makanannya, sampai suasana tempatnya kan difotoin tuh. Karena nggak ada niat jadi nggak ada foto gituan, tapi nanti saya kasih satu foto deh ya bukti kita ke sana. Hahaha.

Saya sempat takjub liat buku menu karena liat foto makanan yang semuanya terlihat begitu menggiurkan. Kata Suami, itulah pentingnya kamera bagus buat menghasilkan foto yang bagus. *sambil pasang muka pengen kamera* Hahaha. Yang hebat ya food fotografernya lah. Bisa membuat makanan terlihat menggiurkan hanya dari sebuah foto. πŸ˜‹

Setelah bolak balik menu, saya memutuskan untuk pesan Daging Sapi Lada Hitam. Menu andalan plus cari aman. Haha. Suami pesan Sapo Tahu Ayam Saus Cabe. Pesan nasi putih satu karena saya biasanya nggak habis juga kalau makan sendiri, dan suami semacam menggalakan gerakan diet demi kemaslahatan diri sendiri. Hahaha. Minumnya kita pilih Sweet Ice Tea, yang kalau di warung namanya es teh bisa dapat empat gelas, di sini cuma dapat satu, cin. πŸ˜‚

Karena kita duduk dekat dengan si pembuat minuman, nggak lama tuh es teh sampai di meja. Gelasnya? Waw. Amazing. Kecil. πŸ˜‚ Ini review makanan kok kebanyakan ketawa sambil nangis. Wkwkwk. Abaikan gelas kecil. Suami minum. Makanan belum datang, minuman udah tinggal 2/3. Hahaha. Karena dekat tempat yang bikin minum kita jadi sering ngeliatin ke arah sana. Oh, gelas buat lemon tea lebih besar. Coba kita liat kalau buat jus dia pakai gelas apa. Oh gelas itu, nggak gede-gede amat. Mending beli jus di Beauty Juice kan? Hahahaha. (Maaf. Ini adalah omongan random suami istri yang perhitungan)

Nggak lama kemudian pesanan kita datang. Daging Sapi Lada Hitam datang duluan dan omaigat saya mencium bau yang begitu kuat, ini adalah minyak wijen pikir saya. Saya begitu anti sama minyak wijen dan sebenarnya saya tau kalau chinese food biasanya pakai minyak wijen kan? Kan? Kan? Rada menyesal juga karena nggak bilang sebelumnya minta dibuatkan tanpa minyak wijen, siapa tahu bisa request kan. Tapi karena sudah terlanjur datang dan harganya lumayan masa iya nggak dimakan? Saya coba sedikit dan ternyata nggak terlalu berasa minyak wijennya. Alhamdulillah saya bisa makan. Pesanan suami juga datang, nasi juga udah ada, semangkok kecil macam mangkok di drama-drama itu lo.

Daging Sapi Lada Hitam ini bumbunya kuat banget menurut suami saya. Iya juga sih. Soalnya banyak banget dia pakai bawang-bawangan. Bawang merah, putih, bombay, daun bawang. Potongannya juga rada gede. Belum lagi cabe merah-hijau. Ladanya juga kayaknya agak banyak, iyalah kan judulnya lada hitam. Hahaha. Di dalamnya juga ada timun lo ternyata, jadi rada segar gitu. Potongan dagingnya agak tebal tapi tetap empuk kok. Lumayan enak sih. Cuma saya kurang suka di minyak wijen itu, baunya nggak tahan, untung nggak terlalu berasa.

Sapo Tahu Ayam Saus Cabe nggak sesuai ekspektasi Suami. Dia pikir bakal pedas huh hah huh hah gitu. Ternyata biasa aja katanya, kaya Sapo Tahu pada umumnya. Isinya tentu saja ada tahu a.k.a tofu, potongan ayam, daun bawang, kol, sama apa lagi lupa, dengan kuah kental berwarna ke-orange-an. Pas saya coba, saya pikir sudah cukup pedas kuahnya. Enak. Lidah kita beda kali ya standar pedasnya. Di tiap meja itu disediakan sambal tambahan, ada 3 macam. Nggak ngerti juga sambal apa aja. Suami memutuskan untuk menambahkan salah satu sambal ke mangkok Sapo Tahunya. Jadi lumayan katanya rasanya dibandingkan sebelumnya. Emang iya, jadi lebih pedas dan lebih segar. Saya juga jadi sering minta. Hahaha.

Selesai makan kita bayar. Bayar lo ya ini, nggak gratis. Hahaha. Pas lagi berdiri di depan kasir suami bilang, ternyata lebih dingin di sini. Pas keluar pintu menuju arah mall ternyata lebih dingin lagi. Kena AC sentral mall kan ya. Tempat duduk kita tadi nggak ada dinginnya sama sekali, mungkin karena dekat tempat masak, eh tapi dekat tempat bikin minum sebenarnya. Hahaha. Jadi kalau makan di sini kayaknya enak di bagian luar Ta Wan yang ada di dalam mall deh. πŸ˜…

Oh iya foto, nih saya kasih foto candid dari henpon Suami yang diem-diem motoin Istrinya. πŸ˜‰

Eh iya, kebetulan fotonya juga pas selesai makan jadi piringnya kosong. Kalau kata Dujun di Drama Let’s Eat. Makanan yang enak itu terlihat dari foto setelah makan. Kalau piringnya kosong, makanannya habis, berarti enak. Kalau kita filosofinya nggak cuma itu sih. Selain rasanya yang enak, makanannya dihabiskan karena sayang, takut mubazir padahal udah keluar uang. Hahahaha.

Sekian dulu cerita makan-makan kita. Nanti lagi ya kalau saya rajin kita review makanan atau jajanan lain. πŸ˜‰

Banjarmasin, 26 Maret 2018

Arifah Marhamah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s