Travel

Hobby Travelling?

Kalau ditanya begitu, jawaban saya, “Nggak juga sih“.

Lah kok ada kategori travel di blog ini?

Biar gaya aja“. Hahahaha

Sejak zaman alif sampai sekarang bisa dihitung jari saya itu sudah bepergian ke mana aja. Dasarnya pemabuk, jadinya nggak terlalu suka jalan-jalan dari kecil. Iya. Pemabuk berat. Mabuk darat laut dan udara. Minumlah sebelum bepergian.

Nasibnya si kecil juga, kalau orangtua bepergian saya seringnya ditinggal. Padahal dulu, beberapa orang kakak saya sekolah di luar Banjarmasin. Tersebar ke seantero bumi. Haaaa. Orang tua sering bepergian menjenguk kakak sembari mencari sesuatu yang bisa diperdagangkan. Dasarnya Emak, nggak mau rugi kalau lagi bepergian. Haha.

Saking seringnya ketinggalan di rumah. Sampai-sampai dulu saya punya lagu favorit.

Aku sedih. Duduk sendiri. Mama pergi. Papa pergi. Oh itu dia, mereka datang. Hatiku senang. Hatiku riang“.

Kurang lebih begitu liriknya seingat saya. Nyanyi lagunya sambil berayun-ayun di ayunan. Sedih amat ya? 😂

Sering diam di rumah makin bikin saya parno kalo mau jalan jauh. Belum lagi masuk ke mobil sudah pusing. Mesin mobil baru dinyalain, sudah mulai mual. Haha. Parah memang. Makanya dulu itu saya langganan minum antimo kalau mau pergi. Jadi pas udah jalan, nggak berapa lama saya langsung tertidur, blass. Jangan tanya sama saya soal kondisi perjalanan. Saya nggak liat. Tidur sepanjang jalan kenangan 🤣

Makin gede makin berkurang sih kebiasaan mabuk di perjalanan ini. Tapi syarat dan ketentuan berlaku ya. Mobilnya nggak boleh harum, nggak boleh ada parfum. Jendela mesti dibuka. Jalannya juga santai nggak boleh ngasal. Apalagi keseringan rem mendadak. Alamat bakal ngeluarin kantong plastik dah saya kalau begitu. 😅

Perjalanan terjauh semasa kecil seingat saya masih di dalam pulau ini. Pulang kampung ke kampung orang tua. Ngantar kakak yang baru nikah ke kampung suaminya. Menghadiri pernikahan keluarga. That’s it. Pertama kali keluar Kalsel seingat saya dulu pas ke Balikpapan, jenguk saudara sakit atau apa ya. Tahun berapanya saya lupa.

Semasa SMA, saya dan teman-teman beberapa kali mengunjungi pantai yang ada di Kalsel, jalan-jalan gitu ceritanya. Tapi ya itu, sebelum naik bis mesti melakukan ritual minum antimo. Nyium bau bis yang nangkring itu sudah langsung merinding, guys. Kalau sudah di dalam bis kembalilah menjadi putri tidur. Biasanya sih sampai tempat tujuan baru saya bangun. Hahaha.

Lulus SMA, saya dan beberapa orang teman berencana mendaftar kuliah di STAN. Waktu itu tahun 2008, belum ada pendaftaran di Banjarmasin. Belum zaman pendaftaran online kaya sekarang. Kalau mau daftar ya mesti datang ke tempatnya. Pendaftaran terdekat waktu itu di Balikpapan dan Surabaya. Kalau ke Surabaya biayanya agak mahal sih ya karena mesti naik pesawat. Kalau ke Balikpapan kan bisa naik bis aja kalau mau. Meski sudah ada juga penerbangan ke Balikpapan saat itu tapi biayanya juga nggak murah. Jadilah saya dan puluhan teman bersama-sama pergi ke Balikpapan menggunakan bis. Niatnya buat daftar STAN. Meski nggak semuanya ikutan daftar karena ada beberapa teman yang ikut cuma pengen jalan-jalan. Hahaha.

Pas daftar kita ke Balikpapan, pas mau tes kita ke sana lagi, ganks. Dulu mah gitu, rempong. Pas daftar mesti berangkat. Trus pulang dulu karena nggak langsung tes. Pas mau tes ya berangkat lagi. Makanya kalau naik pesawat jadinya berat, lebih berat dari rindunya Dilan. Hahaha. Seingat saya dulu itu kita ada kali sampai 20 orang, separo bis kita doang. Berisiknya luar biasa. Hahaha.

Tanya dong, kita keterima di STAN? Nggak. Nggak satupun yang lulus. Hahahaha.

Puluhan manusia itu cuma dapet jalan-jalan dari dua kali keberangkatan. Trus pada sedih gitu? Mungkin teman-teman ada yang kecewa sih. Tapi kalo seingat saya, nggak ada yang menyesal melakukan perjalanan jauh untuk mendaftar, lalu ikut tes, tapi kemudian nggak diterima. Emang bukan rezekinya mau gimana kan? Seingat saya kami malah ketawa pas tahu hasilnya. Menertawakan kekonyolan dan keseruan kita waktu itu. Seengaknya kita punya kenangan di akhir masa SMA kita. 😄

Btw, kalau ditanya saya mabuk atau nggak selama perjalanan? Seingat saya nggak mabuk loh. Mungkin karena naik bis yang tinggi kali ya. Trus pergi rame-rame juga. Yaa, tetep sih nenggak antimo dulu sebelumnya. Tapi aman terkendali lah ya.

Nggak diterima di STAN dan di PLN (iya, saya coba macam-macam lo dulu, haha). Alhamdulillah saya diterima di Universitas Negeri di Banjarmasin. Trus kuliah deh saya. Semasa kuliah saya cukup aktif ikut organisasi kemahasiswaan. Naah, selama berorganisasi ini juga saya mendapatkan pengalaman jalan-jalan yang cukup jauh.

Tahun 2009 kita ada acara kunjungan ke Indocement di Tarjun, lalu menginap di dekat Pantai Sarang Tiung , Kotabaru. Kalau dari Banjarmasin kayaknya 12 jam juga deh ke sana. Kurang lebih dengan perjalanan ke Balikpapan. Naik bis lagi dengan kondisi jadi panitia. Kejauhan plus capek juga mungkin karena harus sambil jalanin tugas, sampai akhirnya saya teler. Harus istirahat pas sampai coutage padahal ada acara ramah tamah malam itu.

Eh iya, sebelum aktif organisasi, awal kuliah, September 2008, saya melakukan perjalanan terjauh yang pernah saya tempuh. 9 jam berada di dalam pesawat. Yup. Alhamdulillah berkesempatan umroh untuk pertama kali. Mabuk? Iyaa dongs. So pasti. Hahaha.

Saat itu kita berangkat dalam kondisi puasa. Sebenarnya boleh aja nggak puasa karena kita lagi di perjalanan kan ya. Nanti bisa dibayar pas sudah balik. Tapi rasanya sayang aja kalau nggak puasa. Nunggu berbuka juga jadi 5 jam lebih lama karena kita ngikutin waktu setempat. Beberapa jamaah ada yang berbuka di atas pesawat mengikuti jam Indonesia.

Jadi puasa ditambah 5 jam, pas berbuka makanannya udah dingin. Dingin banget. Asli. Mungkin kmaren nggak langsung saya makan apa gimana ya. Lupa. Makanan yang dingin kena AC pesawat masuk ke perut kosong. Walhasil. Setelah menahan sekuat tenaga, waktu pesawat mendarat, saya munt*h juga. Pas turun pesawat pertama itu sampai diliatin orang, saking lemesnya. Malu kan? Hahaha.

Waktu jalan-jalan di sana nggak begitu mabuk sih. Tapi nggak begitu total juga pas ziarahnya. Pernah juga kita diam di hotel aja waktu diajakin jalan di luar jadwal. Bulan Ramadhan di sana bertepatan dengan musim panas. Jadi, bayangin lah ya panas-panas plus puasa, bawaannya pengen hemat tenaga aja. Hehe.

Berbekal pengalaman itu, pas umroh tahun 2016. Selama di pesawat nggak saya biarin perut saya kosong. Ya iyalah berangkatnya pas nggak puasa kan? Hahaha. Semua makanan yang disajikan saya makan. Setidaknya secukup perut biar nggak kosong. Saya lebih sering minta teh hangat daripada minuman berwarna-berasa yang macam-macam. Saya nggak pengen sakit perut atau mules di pesawat. Males gerak. Lagian juga nggak enak kan kalau sakit pas di perjalanan. Hahaha.

Eh btw, saya tu bikin kategori travel sebenarnya pengen posting foto-foto pas liburan ke Bandung bulan April 2017 lalu. Pertama kali ke luar Kalimantan tanpa orang tua. Sebelumnya saya pernah sih ke Surabaya, menghadiri acara pernikahan keluarga, berangkatnya bareng keluarga lah pasti. Hahaha.

Kalau dipikir, selama ini saya keluar kota itu selalu sama orang tua atau keluarga atau selalu karena ada keperluannya saja. Untuk pertama kalinya saya pergi hanya untuk liburan. Bertiga dengan teman saya. Perempuan semua. Hahaha. Bayangkan betapa rempong dan nekatnya kita. Tapi seru juga ternyata.

Nanti saya share foto-fotonya dan mungkin sedikit cerita selama di sana. Telat sih. Udah hampir satu tahun. Tapi nggak apa lah. Biar gaya dikit lah blog ini ada postingan ala traveller gitu. Kali aja nanti Suami mau ngajakin jalan-jalan kan bisa diposting lagi. Haha 🤣🤣🤣

Banjarmasin, 6 Maret 2018

Arifah Marhamah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s