Baiti Jannati

Beli Rumah = Beli Tetangga

Pengantin baru. Pengantin muda.

Setelah menikah masih ikut dengan orang tua.

Keluar dari rumah mereka, pernah tinggal di tempat berbeda.

Sempat hijrah juga ke luar kota.

Saat mereka kembali, begini ceritanya…

Rumah yang saat ini saya tempati adalah rumah Abah yang dibangun lebih dari 30 tahun lalu.

Sejarahnya, ada seorang teman Abah, sesama pedagang, sesama orang Alabio, ngajakin Abah buat jadi tetangga.

Ayo bikin rumah di sebelah rumah saya, ada tanah kosong. Biar kita jadi tetangga“.

Kurang lebih begitulah kalimat beliau saat itu.

Pasti tau lah ya, kalau lagi merantau atau di kampung orang, ketemu sama orang yang satu kampung sama kita itu rasanya menyenangkan. Seperti bertemu keluarga meski tak ada ikatan darah. Bertemu saja senang, apalagi diajak tetanggan.

Dan ajakan beliau saat itu tak dianggap angin lalu oleh Abah. Alhamdulillah ada rezeki dan Abah memutuskan membangun rumah di samping rumah Beliau.

Alasannya?

Saat itu, mungkin masih banyak padang rumput di sana, belum seramai sekarang. Kalau dilihat dari prospek ke depan, Abah mungkin tak terlalu paham soal begituan. Murni karena ini ajakan beliau. Sebagai sesama pedagang, Abah tahu beliau orang seperti apa. Orang yang baik, Insya Allah. Bertetangga dengan orang baik itu penting. Karena tetangga yang baik akan menciptakan lingkungan yang baik.

Dulu, sebelum menempati rumah yang sekarang, salah satu alasan orang tua saya berhijrah ke luar kota, selain ingin mencoba usaha, juga ingin keluar dari lingkungan yang dirasa kurang baik untuk perkembangan kepribadian anak-anak.

Di lingkungan Rumah Abah ini, meski dulu tak begitu ramai penduduknya sudah ada beberapa orang yang tinggal di sana. Mama pernah cerita, saat pindah ke rumah ini, mereka tak langsung diterima dengan baik oleh para tetangga penduduk lama. Kakak-kakak saya sempat diusili oleh anak-anak penduduk lama. Mama juga sempat merasakan perlakuan kurang bersahabat dari Ibu-Ibu di sana.

Tapi Mama tak pernah membalas dengan perlakuan serupa. Beliau berusaha menjadi tetangga yang baik sebagaimana mestinya. Tetap senyum dan tetap menyapa. Hasilnya, perlakuan kurang bersahabat itu hanya bertahan sebentar saja. Mungkin saat itu keluarga kami sedang merasakan yang namanya “Ospek” di perkampungan. Hahaha.

Dalam Islam, kehidupan bertetangga ini sangat diperhatikan.

Allah berfirman:

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.” [Q.S. An Nisa (4) : Ayat 36]

Rasulullah juga pernah bersabda dalam beberapa hadits perihal tetangga.

Dari A’isyah radhiyallahu’anha, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam menuturkan:

“Jibril selalu berpesan kepadaku untuk berbuat baik kepada tetangga, sampai aku mengir, tetangga akan ditetapkan menjadi ahli warisnya.” (HR. Bukhari 6014 dan Muslim 2624).

Pernah juga saya dengar cerita Seorang Yahudi yang berniat menjual rumah dengan harga yang cukup mahal, padahal kalau dilihat dari harga pasar, harga rumah itu tidak sampai segitu. Ternyata alasan dia menjual dengan harga tinggi karena tetangganya. Yahudi itu memiliki tetangga seorang Muslim yang baik. Menurutnya, harga rumah yang ia tawarkan sangat sesuai karena orang yang akan membeli tidak hanya akan memiliki rumah, tapi juga akan memiliki tetangga yang baik. Dan tetangga yang baik itu mahal harganya.

Sebegitu detailnya Agama ini mengatur hidup dan kehidupan, sampai urusan bertetangga pun jadi perhatian. Semoga kita bisa menemukan rumah dengan tetangga dan lingkungan yang baik. Semoga kita juga bisa jadi tetangga yang membawa kebaikan bagi lingkungan kita.

Wallahu’alam.

21 Februari 2018

Arifah Marhamah

Catatan:

Sumber bacaan mengenai hidup bertetangga ada di sini.

Kisah Yahudi pernah dimuat di sini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s