Faith

Perkara Jodoh

“Kamu sih enak. Punya banyak Kakak. Banyak link buat nyari jodoh”.

Tidak sekali. Seringkali. Kalimat yang serupa kalimat di atas saya dengar. Ditujukan kepada saya.

Memang benar saya punya tujuh orang kakak. Sebagian besar hidup berorganisasi. Organisasi yang bahkan punya sub organisasi yang mengurusi masalah pernikahan kadernya.

Belum lagi saudara saya yang lain, yang orang lihat, jika saya berucap kepadanya minta dicarikan jodoh, maka akan segera datang itu jodoh untuk saya.

Abah yang punya banyak teman dan kenalan. Yang dipikir orang lain, akan mudah menemukan jodoh yang beliau mau untuk anaknya.

Kenyataannya?

Saya baru menikah di usia 26 hampir 27 tahun. Jika dibandingkan dengan dua orang saudara perempuan saya yang seingat saya menikah di usia 22 atau 23, saya terhitung cukup berumur saat menikah.

Kemana kemudahan mendapat jodoh yang orang lain perkirakan?

Jika seperti yang orang bilang, saya mudah mendapat jodoh, mungkin saya menikah di umur 22 atau 23. Tahun 2013. Seperti yang sudah saya pernah targetkan.

Tapi beberapa tahun berlalu dari target, saya masih sendiri. Baru di tahun 2017 saya bertemu dengan dia, Suami saya.

Siapa yang mengira saya akan bertemu dengan Suami yang ternyata teman satu angkatan saat saya sekolah dulu?

Tidak melalui perjodohan orang tua, tidak melalui saudara, tidak pula melalui Murobbi.

Meski dia adalah orang yang pernah saya kenal sebelumnnya. Proses ta’aruf saya dan dia tetap dikawal Saudara saya sesuai peraturan yang berlaku. Haha.

Alhamdulillah, proses ta’aruf ini berlanjut ke pelaminan. 😄

Setelah semua yang terjadi pada saya. Setelah menemani proses bertemunya saya dengan jodoh saya.

Kakak2 berujar, inilah pelajaran untuk kita, bukti bahwa jodoh tidak berada pada tangan Orang Tua, Saudara, apalagi Murobbi.

Jodoh memang benar-benar di tangan Allah, Sang Pemilik Jiwa dan Penggenggam Hati.

Saya pikir-pikir, ini semua mungkin bagian dari terkabulnya doa saya. Meski tak pernah secara gamblang saya ucapkan. Saya tidak terlalu senang jika dipandang orang lain sebagai adik si A. Saya akan merasa terbebani saat orang lain mengenal atau bahkan meminang saya karena saya adik si B. Saya takut orang lain akan kecewa karena saya tidak sama dengan saudara saya. Saya mungkin tidak seperti apa yang orang perkirakan, saat mereka melihat siapa saudara dan keluarga saya.

Dan ternyata, saya bertemu dengan orang yang lebih dulu mengenal saya. Meskipun akhirnya dia tahu saya adik si A, si B, dan seterusnya. Haha.

Setidaknya dia sudah tahu saya orang seperti apa. Ini juga yang sempat saya tanyakan melalui Kakak2 kepadanya. Tentang kepribadian saya yang tak perlulah saya tulis di sini. Dia bisa menerima saya seperti ini adalah salah satu kelegaan saya pada saat itu.

Jodoh..

Akan diberikan di saat yang terbaik. Sesuai persangkaan kita kepada-Nya.

Bagaimana cara kita mendapatinya, akan sangat berpengaruh ke depannya.

Harapan bertemu jodoh yang baik harus dimulai dengan cara yang baik pula.

Untuk yang masih belum bertemu, Semoga Allah mudahkan dapati jodoh yang terbaik dengan cara yang baik.

Amiin Ya Rabbal ‘Alamiin.

Banjarmasin, Februari 2018

Yang dulu juga pernah menanti jodoh,

Arifah Marhamah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s