Mencari Sebab serta Mencari Alasan

Mencari Sebab serta Mencari Alasan

Jadi ceritanya, beberapa hari yang lalu sebelum berangkat kerja, saya menjemur sepatu di atas mobil Abah.

Sorenya pas pulang kerja, saya lihat mobil itu pindah posisi. Saya ingat tadi pagi jemur sepatu. Jadi saya tanya Abah di mana sepatu saya.

“Bah, sepatu aku dipindahin ke mana?”

“Sepatu yang mana? Kamu naroh di mana?”

“Di atas mobil Abah tadi pagi”.

“Astagfirullahal’adzim. Mobil itu tadi Abah pakai keluar. Abah nggak sadar ada sepatu kamu di atas mobil”.

Saya cuma bisa ketawa sambil celingukan di halaman rumah. Kali aja tu sepatu jatuh di halaman pas abah ngeluarin mobil. Nggak ada sob.

“Hahaha.. Wasalam deh, Bah.”

“Beneran Abah nggak sadar pas pakai mobil tadi. Jatuh di jalan pasti. Ikhlasin aja ya Fa kalau ada yang nemu di jalan”.

“Iya Bah. Nggak papa juga sih. Emang ada niatan beli sepatu baru juga. Hahaha”.

Iya sih. Emang beberapa hari ini saya udah bolak balik webnya Adorable buat cek sepatu. Emang ada niatan mau beli. Tapi masih maju mundur. Soalnya sepatu saya itu sebenarnya ga cuma sepasang. Masih ada beberapa. Cuma udah pada “bungkas dan lisit” sebagiannya. Tau “bungkas dan lisit” nggak sih? Hahaha.

Dengan hilangnya sepasang sepatu saya. Maka semakin kuatlah alasan buat beli baru. Hilang sepasang. Ganti sepasang. #Alasan

Ini bukan kali pertama saya mencari alasan kuat buat beli sesuatu. Trakhir pas mau beli handphone baru juga gitu. Mungkin berbulan-bulan saya sudah mulai cek-cek jenis dan harga handphone. Liat spesifikasi. Liat review. Tapi masih belum beli juga. Sampai pada titik handphone saya itu mengganggu aktivitas kerja saya. Sampai saya dibikin malu karena nggak bisa kirim bukti transaksi ke Pimpinan via WA hanya karena full storage. Akhirnya, saya ketemu alasan kuat beli handphone. Ditambah lagi ada promo akhir tahun. Yasudah, akhirnya saya beli juga. Hahaha.

Saya jadi ingat cerita Tante saya waktu beliau masih kecil. Tante saya itu sampai harus menghilangkan salah satu sendalnya cuma biar dibeliin sendal baru sama Kakek saya. Soalnya kalau sendal cuma rusak sedikit dan masih bisa diperbaiki, pasti bakal diperbaiki sama Kakek saya. Satu-satunya cara biar dibelikan sendal baru yaitu hilangkan salah satunya. Nggak mungkin kan sendalnya cuma dipakai sebelah? Hahaha.

Mungkin karena didikan Kakek yang seperti itu. Mama juga begitu dengan anak-anaknya. Kalau mau minta dibelikan sesuatu sama Mama harus ada alasan yang logis. Kenapa harus beli? Untuk keperluan apa? Apa benar-benar perlu? Kalau cuma pingin tanpa alasan jelas. Alamat bakal nggak dibelikan.

Pernah dulu waktu saya masih SMA. Saya itu pingin punya laptop. Kayaknya sempat terucap deh. Tapi nggak ada respon dari Mama. Karena sebenarnya saya punya PC di rumah. Dan beli laptop itu cuma pingin aja. Biasalah ABG labil, belum bisa cari uang tapi banyak maunya. Hahaha.

Kakak3 pernah ngasih saran ke saya, “Kamu, kalau mau dibelikan laptop, nanti kuliahnya di jurusan yang mengharuskan kamu punya laptop. Pasti dibeliin sama Mama”. 

Saya pikir benar juga. Mama itu kalau untuk urusan keperluan sekolah. Hampir nggak pernah bilang nggak. Kalau memang benar-benar keperluan sekolah. Pasti dipenuhi sama Mama.

Kayaknya ini deh salah satu alasan saya pingin kuliah di jurusan informatika. Biar bisa punya laptop. Hahaha. Nggak ini juga deng. Saya emang senang sama informatika dari dulu. Sempat punya cita-cita jadi Hacker, mungkin karena berasa keren. Hahaha. Tapi setelah penjurusan saya masuk ke IPS, saya memudarkan keinginan buat kuliah informatika. Pudar pulalah harapan saya punya laptop. Hahaha.

Kalau mau sebenarnya bisa saja saya ambil tes IPC saat masuk universitas, tapi saya sudah malas kalau harus belajar lagi. Mungkin saya sudah terlanjur menikmati yang namanya Ekonomi-Akuntansi. Saya memutuskan menjalani saja dengan senang hati. Alhamdulillah. Saya setia dengan jurusan IPS saya. Kuliah di Fakuktas Ekonomi jurusan Akuntansi. Terlalu on the track ya hidup saya? Hahaha.

Jadi ya gitu, kalau sama Mama harus punya alasan logis, alasan jelas, alasan Syar’i kalau mau dibelikan sesuatu. Bukannya Mama nggak mau. Bukan nggak mampu juga. Orang tua itu pasti pingin memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Kalau bisa mereka akan penuhi semua keinginan anak-anaknya. Tapi saya tahu, Mama membiasakan ini biar anak-anaknya berpikir. Bisa membedakan mana keinginan mana keperluan. Anak-anak harus bisa bertanggung jawab dengan apa yang dimilikinya. Karena sesuatu yang didapat dengan mudah, biasanya akan berakhir dengan mudah pula.

Semoga saya juga bisa menerapkan ini sama anak-anak saya nanti ya 🙂

-Arifah Marhamah-

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s