Kutunggu Engkau Memanggilku Kembali

Kutunggu Engkau Memanggilku Kembali

Alhamdulillah. Allah beri saya kesempatan menginjakkan kaki di Tanah Suci pada tahun 2008, di semester awal saya kuliah.

Ini adalah jawaban dari do’a saya pada beberapa tahun silam.
“Saya mau umroh”
Entah berapa kali saya ucapkan. Baik dalam doa atau dalam percapakan keseharian.

Abah memang punya cita-cita, ingin semua anaknya bisa melihat Ka’bah. Bisa menginjakkan kaki ke Mekkah dan Madinah. Saat ada rezeki di tahun itu, Mama mengingatkan bahwa niat baik jangan diperlambat. Jadilah Abah, Kakak2, Kakak7 dan Saya direncanakan untuk umroh pada tahun itu.

Rencana ini hampir tertunda karena Mama mengalami serangan jantung pertama kali di tahun 2008 ini juga. Abah sempat ragu untuk melanjutkan. Tapi Mama kembali mengatakan bahwa niat baik jangan ditunda. Mama juga mengatakan bahwa beliau Insya Allah akan baik-baik saja.

Sebenarnya Kakak1 dan Kakak5 juga belum pernah ke sana, tapi mereka sudah menyetorkan dana haji dan Insya Allah akan sampai ke sana pada waktunya. Mereka berdua, dengan pasangan masing-masing, akhirnya berhaji pada tahun 2012. Namun tidak sempat bertemu Mama untuk terakhir kalinya.

Setelah umroh, entah berapa bulan atau bahkan tahun, saya pernah bertemu seorang teman. Dan kami berbagi cerita perihal umroh.

Dia cerita, Neneknya, kalau pergi umroh harus dengan travel yang yang sama. Travel K.

Saya tanya kenapa?

Dia bilang, travel ini menyediakan makanan khas banjar. Beliau tidak bisa kalau pakai travel lain. Masakannya tidak cocok.

Saya pikir betul juga. Kalau makanan nggak cocok, nanti nggak makan. Kalau nggak makan, nanti sakit. Kalau sakit, bagaimana bisa Ibadah? Bukankah tujuan ke sana itu ingin Ibadah?

Saya juga sempat merasakan ketidakcocokan soal makanan saat umroh tahun 2008. Travel yang saya ikuti hanya cabang dari travel di Jakarta. Jamaah yang ikut tidak semua dari Banjarmasin. Sebagian jamaah bergabung saat singgah di Jakarta. Makanannya tentu saja masakan nasional Indonesia.

Lidah saya ini lidah Banjar yang masih bisa ditawar. KFC, Al Baik, dan Burger yang ada di sana masih bisa saya telan. Bilang saja memang pilih-pilih makanan. Hahaha.

Seringkali masakan yang disajikan menunya dari lelautan. Kalau sudah begini, saya angkat tangan. Untungnya saat itu kita bawa abon haruan. Jadilah senjata saat menu tak sesuai harapan.

Setelah mendengar cerita teman tadi dan setelah pengalaman yang saya alami.
Terucaplah dari bibir ini.

“Pengen deh nanti kalau umroh lagi pakai Travel K”.

Hari berganti minggu. Bulan berganti tahun. Karena musim cuma ada dua, habis musim hujan, lalu musim panas.

Di tahun 2016. Allah panggil saya lagi untuk bertamu ke Baitullah.

Orang bilang, saat ada niat ingin pergi ke tanah suci. Seringkali ujian datang kepada si empunya hati. Ujian ini datang sejak sebelum berangkat, saat di sana, bahkan sampai saat pulang.

Ujian keimanan. Ujian kesabaran. Ujian kemabruran.

Hanya terkadang manusia tak sadar, dari ujian ini pasti ada hikmah yang Allah selipkan. Ingat juga, bahwa bersama kesulitan ada kemudahan.

Tahun 2008 mungkin kami diuji dengan sakitnya Mama. Sempat goyah, ingin menunda. Alhamdulillah Allah takdirkan kami sampai juga di sana.

Tahun 2016 ini ada sedikit ujian bagi kami dan ini terkait dengan izin cuti.

Karena saya sudah bekerja, otomatis saya harus mengajukan cuti minimal satu bulan sebelumnya.

Rencana semula kita mau umroh bareng saudara saya. Tapi karena tanggal berangkatnya tidak cocok dengan jadwal pekerjaan saya. Akhirnya batal berangkat bersama. Tapi kita putuskan ikut travel ini dengan keberangkatan sebulan sebelumnya yang tanggalnya cocok dengan jadwal saya.

Pengajuan cuti selesai dan Abah sudah setor uang muka.

Beberapa hari kemudian, pihak travel mengabarkan bahwa terjadi penundaan keberangkatan, saya lupa apakah karena kuota yang belum terpenuhi atau karena alasan lain.

Kalau mundur sehari dua hari, mugkin saya masih bisa bicara dengan HRD kantor. Kalau mundur seminggu atau lebih, ini yang tidak bisa. Karena pada tanggal tertentu, saya harus sudah berada di kantor melakukan tugas saya.

Akhirnya dengan terpaksa kita batalkan pendaftaran di travel ini. Alhamdulillah uang muka masih bisa kembali karena penundaan dari pihak travel yang tidak bisa dicocokkan dengan jadwal cuti.

Kami melihat-lihat kembali nama-nama travel yang ada di Banjarmasin yang punya tanggal berangkat yang pas dengan jadwal cuti saya. Selisih satu atau dua hari tak mengapa. Masih bisa dibicarakan.

Pilihan akhirnya jatuh pada Travel K. Mereka memberangkatkan jamaah empat kali dalam sebulan. Dan ada satu tanggal keberangkatan yang hanya selisih satu hari dengan pengajuan cuti saya.

Setelah semua urusan selesai, saya bilang sama Abah bahwa do’a saya benar benar dijawab Allah. Sampai-sampai nama travelnya Allah kabulkan sesuai keinginan saya beberapa tahun lalu.

Alhamdulillah. Keberangkatan kali ini urusan makanan tak lagi jadi soal. Karena itupula saya tak terlalu jajan di luar.

Selain makanan, bahasa yang digunakan saat bicara dengan jamaah lain juga membuat saya merasa berada di kampung sendiri. Candaan-candaan khas Hulu Sungai berhamburan sepanjang perjalanan dan di ruang makan.

Alhamdulillah. Allah beri saya kesempatan untuk bertamu ke sana dua kali. Ini juga mungkin hikmah saya masih sendiri sampai saat ini. Diberi kesempatan sekali lagi mengunjungi tanah suci. Menemani Abah, si Bungsu ini.

Menuliskannya membuat ingin ke sana lagi.
Tapi diri ini tak akan mampu pergi.
Sebelum Engkau memanggilku kembali.

Banjarmasin, 1 Februari 2017
Yang menunggu panggilan-Mu,
Arifah Marhamah

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s