Wajah itu

Wajah itu

Wajah murung itu ternyata belum pergi.

Sudah bilangan tahun berlalu.
Wajah itu masih menyimpan rasa pilu.
Setidaknya begitu, yang tertangkap oleh mataku.

Masih teringat dengan jelas.
Sosok kecil pemalu yang selalu bersembunyi di balik badan Sang Ibu.
Belasan tahun lalu, saat kami, mungkin pertama kali bertemu.

Kisah hidupnya yang terlalu mengharu biru.
Masih kuingat dengan jelas di benakku.
Hingga saat ini.

Ditinggal pergi-entah kemana-oleh Si Ayah saat ia masih dalam kandungan.
Sang Ibu meninggal dunia saat ia masih berumur tujuh tahun-an.

Sendiri. Dia benar-benar sendiri.

Wajah pemalu itu kini bertambah pilu.
Seperti itu, yang tertangkap oleh mataku, dulu.

Sekarang, anak ini sudah tumbuh dewasa.
Masih setia melanjutkan pendidikannya.
Sendiri, tanpa sanak keluarga di sisinya.

Keluarga, lebih manis saat berada jauh dari kita”, ujar si Anak suatu ketika.

Mungkin, keluarga tak bisa banyak membantunya.
Mengantarnya ke sana, berharap masa depan yang lebih baik untuknya.
Mendoakan dari kejauhan, untuk segala kebaikannya.
Semoga Allah selalu melindunginya, di manapun dia berada.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s