Review Revolvere Project: Flashback

Review Revolvere Project: Flashback

Entah angin apa yang membuat saya membuka lagi laman yang dulu saya kenal dengan nama Ruang Tengah, setelah sekian lama.
Haha, maafkan aku Bang Fahd, mencantumkan lamanmu di blogku, tapi jarang sekali mengunjunginya.

Saya juga sudah lama follow Bang Fahd di twitter.
Tentunya saya tahu bagaimana respon teman-teman pembaca terhadap karya Bang Fahd, karena pemilik akun @fahdisme ini selalu me-retweet kicauan pembacanya.
Tapi saat itu, entahlah, belum tergerak membuka kembali laman yang kini bernama Fahdisme.com itu.

Hari itu, saya melihat Bang Fahd posting Monodialog 2.
Saya buka.
Dan kemudian saya membaca mundur tulisan-tulisan Bang Fahd.

Sampai pada Relvovere Project – Tentang Kita.

Jujur saja, saat membaca tulisan ini, di awal saya sempat berprasangka buruk sama Bang Fahd (maaf Bang 😀)
Saya pikir, sekontroversial apapun Anda, tak layak rasanya membuat tulisan tentang Kumpul Kebo.
Ini yang terpikir, pada awalnyaaa..
Tapi kemudian, saya memutuskan untuk melanjutkan membacanya.
Dan ending yang menyebutkan tentang bulu dan gambar kucing, berhasil membuat saya tertawa terbahak-bahak XD

Saya pikir, inilah kenapa kita diminta untuk tidak berprasangka, apalagi menilai sesuatu/seseorang atas suatu masalah sebelum tahu duduk perkara sebenarnya.
Kalau saja saya menghentikan membaca tulisan ini di awal, mungkin entah sampai kapan saya berprasangka buruk.

Hari itu, saya baru baca transcript, belum sempat lihat videonya, karena saya membaca di waktu istirahat kantor 😦

Sampai pada tulisan mengenai Review Revolvere Project, saya melihat ada Revolvere Project yang sebelumnya.

Akhirnya saya juga membaca Revolvere Project-Apologia untuk Sebuah Nama
Ibu. Tema ini selalu berhasil membuat mata berkaca-kaca. Tak sanggup berkata-kata.

Saya juga lihat Revolvere Project-Kau Yang Mengutuhkan Aku.
Tapi saya belum punya waktu melanjutkan, bahkan untuk sekedar membaca transcriptnya.

Benar saja, perlu waktu beberapa hari untuk saya menyelesaikan membaca, dan menonton video Revolvere Project dengan penuh penghayatan,, haha

Memulai dengan membaca transcript Revolvere Project – Tentang Kita, Apologia untuk Sebuah Nama dan Kau yang Mengutuhkan Aku
Akhirnyaaa, sampai pada waktu saya bisa menikmati videonya.

Revolvere Project ya Revolvere Project!
Disediakan dalam bentuk tulisan, audio dan visual, kita harus menikmati secara utuh.

Agak keliru memang cara saya menikmati karya ini dengan membaca transcript duluan.
Karena setelah melihat videonya, Karya ini terlihat begitu, nyata.

Membaca transcript dengan visualisasi dan musik yang mengiringi, karya ini jadi lebih hidup.
Harusnya seperti ini, karena memang disajikan seperti ini.

Tentang Kita.
Kalau saja saya langsung melihat videonya,, mungkin saya lebih bisa menebak, kalau tokoh yang dimaksud bukan perempuan.
Tapi sebenarnya lucu juga, setelah melihat video itu, menyadari betapa salah besar prasangka saya saat membaca transcriptnya, hahaha.

Apologia untuk Sebuah Nama.
Tak ada yang bisa saya komentari saat tema Ibu menghampiri mata dan telinga saya, kecuali berdoa agar Mama selalu dalam Penjagaan-Nya.
Tapi, ada satu hal yang sebenarnya bikin saya penasaran.
Yang ngasih testimoni di video itu, Ibunya siapa yaa? Bang Fahd? Atau tim Revolvere Project yang lain?
Nggak dijawab, nggak apa sih, cuma penasaran aja 😀

Kau Yang Mengutuhkan Aku.
Ini adalah Revolvere Project 1, tapi paling akhir saya nikmati.
Saat membaca transcriptnya, saya sudah merasa, tulisan ini romantis.
Pasangan yang dikisahkan dalam tulisan ini, mereka pacaran kan? Yaa, pada akhirnya saya tahu mereka akan menikah, dua bulan lagi 😀
Meskipun saya bukan termasuk orang yang mengiyakan yang namanya ‘pacaran’, tapi saya juga tidak pernah menghakimi mereka yang berpacaran.
Entah mengapa, saya merasa,, apa ya istilahnya, kagum? takjub? atau malah heran.
Kepada mereka yang bisa tetap menjaga, menahan, mengontrol hawa nafsu di tengah kondisi yang begitu mudahnya setan memasuki.

Menikmatinya sebagai sebuah karya,
Mengalami penantian lugu, tanpa tahu siapa yang ditunggu,
Kau yang Mengutuhkan Aku,
Benar-benar romantis, menurutku.


Bertahanlah,
sebentar lagi,
sampai kau ikat diriku

Ya, aku akan bertahan…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s