#EdisiMagang: Bapak ini menarik perhatianku..

#EdisiMagang: Bapak ini menarik perhatianku..

Hari selasa kemarin pertama kali aku melihat beliau, di ruang tunggu.
Mungkin hari-hari sebelumnya beliau sudah ada.
Tapi aku lupa.

Hari selasa kemarin aku ingat melihat beliau, karena saat mau pulang, aku menyenyumi beliau yang sedang duduk di ruang tunggu.

Waktu itu kukira beliau tamu yang sedang menunggu seseorang.
Karena hari-hari biasanya, cukup banyak orang keluar masuk ruangan ini.

Rabu kemarin, aku baru tahu kalau beliau adalah supir di instansi ini, khususnya bagian ini.

Aku tahu beliau supir juga karena suatu kejadian.

Waktu itu, tiba-tiba ibu di ruanganku nyeletuk.

Ibu1 : “Coba liat Si A, baru jadi staf, udah nyuruh-nyuruh Pak Supir ngangkat rak buku itu, padahal kecil, dekat lagi”

Awalnya aku tidak terlalu memperhatikan, tapi kemudian aku menoleh ke belakang, karena aku duduk membelakangi kaca, dari kaca ruangan ini terlihat semua kejadian di luar ruangan.

Ibu 1: “Masa tas juga diambilkan Pak Supir”

Aku menoleh, dan mendapati, bapak yang aku kira tamu-dan ternyata Pak Supir- sedang mengambilkan tas dari mobil yang satu, dan menyerahkan kepada seorang bapak-yang disebut Ibu1 td Si A-.

Apa ibu tadi bilang? Mengangkat rak buku?Kedua mobil itu hanya berjarak kira-kira 1 meter.

Dan kalau benar rak yang diangkat kecil, pantas saja Ibu1 bilang, “Terlalu, beliau kan orang tua”.

Ibu 2 menimpali, “Beliau mungkin merasa karena beliau supir itu bu, jadi beliau mau-mau aja”.

Ibu 1 menyahut, “Tetap saja, kita seharusnya bisa lah sendiri kalau cuma melakukan hal itu, jangan mentang-mentang beliau supir, lalu seenaknya, beliau kan lebih tua dari si A, baru jadi staf, gimana nanti jadi bos”.

Beneran! Melihat kejadian itu bikin miris..

Bapak Supir itu terlihat sangat kasian..

Hari Rabu juga, beliau masuk ke ruangan di mana aku berada.

Beliau mau ngambil air dari dispenser buat dimasukin ke dalam botol air mineral beliau.

Beliau bilang sama salah satu bapak di sini yang kemudian mempersilahkan beliau dengan ramah.

Melihat aku duduk di ruangan, beliau juga minta izin sama aku.

Aku cuma bisa senyum seakan mengiyakan, padahal dalam hati, “Silahkan pak, ambil, saya bukan siapa-siapa di sini, lagian bapak itu sudah mempersilahkan bapak, ga perlu izin saya”.

Tapi kata-kata ini tak keluar dari mulutku.

Selesai mengisi botol, beliau keluar ruangan, dan kembali melihatku dan mengucapkan terima kasih kepadaku.. Lagi-lagi aku cuma bisa senyum sambil mengangguk, padahal lagi-lagi dalam hati aku berkata, “Paak, ga perlu berterima kasih sama saya, itu bukan air saya, bapak juga berhak atas air itu, duluan bapak mungkin kerja di sini, saya mahasiswa magang, saya lebih muda dari bapak, saya ga enak kalau bapak seperti itu kepada saya’.

Dan lagi-lagi, kata-kata ini hanya bergumul di otak dan hati.

Hari ini, Kamis.

Aku melihat bayang-bayang dari kaca lemari yang memantulkan kejadian di luar ruangan.

Aku lihat Pak Supir sedang membersihkan mobil hitam, yang kemudian aku ketahui, itu mobil dinas.

Tak lama kemudian, ibu-ibu di ruangan ini tiba-tiba bercakap.

Ibu3: “Coba lihat, kasian beliau, tadi membersihkan mobil dinas, sekarang mobil si X. Melebar ke barang pribadi ini”.

Aku menoleh lagi, iya, beliau masih membersihkan mobil, tapi bukan mobil hitam tadi, sekarang mobil merah.

Dan apa? Itu mobil pribadi?

Ga papa kalau minta tolong beliau membersihkan mobil tapi kemudian memberi beliau tambahan sebagai ucapan terima kasih, kalau nggak dan hanya memanfaatkan keberadaan beliau sebagai supir instansi, terlalu!

Semoga saja yang punya mobil masih punya hati.

Entah kenapa, melihat orang tua yang harus bekerja seperti ini di usia mereka yang sudah tidak muda selalu membuat saya ingin menangis.

Saya ga pernah tega melihat bapak-bapak yang seperti ini.

Hari ini, saya bahkan tidak bisa mengalihkan pandangan dari beliau yang sedang mencuci mobil.

Untungnya orang-orang di ruangan ini -mungkin- sepemikiran dengan saya. Kasian sama beliau, melihat beliau sebagai orang yang lebih tua, yang memang pantas dihormati, meskipun posisi jabatan beliau mungkin rendah dari orang-orang di ruangan ini.

Tapi apakah posisi jabatan yang menentukan seseorang dipandang berbeda di mata Tuhannya?

Tidak bukan?

Tempat Magang.

Kamis, 20 Okt 2011

*percakapan asli tidak seperti ini, tapi maksud pembicaraan masih sama. 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s