Me, My Self and I

Talk to devil, talk to my self

Beberapa tahun yang lalu saya memutuskan membangun benteng ini.
4 tahun mungkin.
Saya harus mempertahankannya.
Paling tidak 2 tahun lagi, jika rencana Tuhan sesuai dengan harapan.

‘Plis deh, Tan. Cape gue bikinnya. Masa lu datang seenaknya pengen menggoyang pertahanan gue’

talk to devil: end

Me, My Self and I

kalau mau kantong muntah, minta sama Bung Ikhsan (loh?)

kan sudah saya bilang di sini “jangan kaget saat nanti menemui tulisan saya yang bernuansa galau-patah hati-cinta-suka cita”

kalau mengenal saya di dunia nyata, rasanya memang tak mungkin tulisan-tulisan bernada puitis, romantis dan sedikit  galau itu adalah tulisan saya. ^^

kalau inspirasi yang datang beriringan dengan mood  saya adalah sesuatu yang -mereka sebut- galau, apa mau dikata?

dan jika memang selalu galau yang menerpa kreatifitas saya, biar nanti saya buat Kompilasi Puisi dan Cerita Galau karya Arifah Marhamah :p

melihat reaksi teman-teman di sekitar (manusia-manusia d BLM), iseng-iseng saya ng’tweet:

“menulis, tulisan itu bisa menampilkan sisi lain dari seseorang. jadi, jangan muntah baca tulisan saya”

dan kalau memang mau muntah, Bung Ikhsan menyediakan kantong muntah di sini.

tulisan saya, memang saya yang membuat. tapi pandang tulisannya, bukan siapa yang menulis.

dan please, don’t be SIDERS yaa 😀

Salam Galau!