Baiti Jannati

Kamu NU atau MU?

Sebelum bicara lebih jauh, mending saya jelaskan dulu apa itu NU dan MU, biar tidak salah paham.

NU bukan merk minuman lo ya,, NU adalah singkatan dari Nahdatul Ulama, tapi saya tidak akan membahas apa itu NU di sini.

MU juga buhan nama klub sepakbola yang punya julukan ‘red devil’ itu, MU itu singkatan buat Muhammadiyah.

Istilah MU ini muncul dari ponakan saya yang memang penggemar sebakbola. Hanya omongan anak kecil. :p
Katanya, kalau mau diajak ke mesjid, dia nanya, “Ke mesjid mana? NU atau MU?”
Ternyata, MU adalah singkatan yang dia buat untuk nunjukkin Mesjid Muhammadiyah.
Tapi sama kaya NU, saya tidak akan membahas Muhammadiyah itu apa di sini.

Bukan cerita ponakan saya itu yang akan dibahas.
Sesuai judul, kamu NU atau MU?

Kamu NU atau Muhammadiyah?
Begini tepatnya pertanyaan yang sering terlontar kepada saya. Terutama dari teman-teman di sekitar yang ‘belum’ mengenal saya.
Pertanyaan ini muncul saat ada momen-momen tertentu, seperti Nisfu Sya’ban tahun ini.

Kalau ditanya, saya ini NU atau Muhammadiyah, saya biasa jawab, “Netral”

Lagi-lagi, bukan Netral Band yg punya vokalis plontos itu.

Netral=tidak memihak salah satu diantara keduanya.

Itu brarti, saya bukan NU, bukan pula Muhammadiyah.

Saya sendiri juga bingung, seseorang dikatakan NU atau Muhammadiyah dari apanya sih??

Puasa nisfu nya? Sholat tarawih 23 atau 11? Sholat subuh pakai qunut atau nggak? Menghaul orang meninggal atau nggak?
Dari mananya?
Kalau dari situ, saya juga bukan NU, bukan pula Muhammadiyah.

Entah sejak kapan saya selalu menjawab, ‘saya netral’ ketika ditanya hal semacam ini.

Mungkin dulu, ketika ditanya hal ini, saya bisa menjawab Muhammadiyah.
Karena saya memang bersekolah di SD Muhammadiyah, bahkan TK Aisyiyah yang juga satu organisasi dengan Muhammadiyah.
Tapi, SMP dan SMA saya bersekolah di sekolah negeri yang mengajarkan pendidikan agama yang umum di daerah saya dan cenderung ke NU.
Soalnya, baru pas SMP saya menghafal doa qunut untuk ujian, meskipun sebelumnya saya sudah pernah mendengar doa qunut itu, tapi tidak menghafalnya.

Dan sekarang, saya netral, mungkin. 🙂

Kalau ditanya orang tua saya gimana?
Abah dibesarkan di kalangan NU, dan Mama lebih condong ke Muhammadiyah.
Itu pun dilihat dari berbagai kebiasaan, salah satunya keluarga Abah yang menyelenggarakan haulan, dan keluarga Mama tidak.

Lantas bagaimana keluarga kami hidup dengan adanya perbedaan ini?
Biasa aja. hee

Mama yang di keluarganya tidak terbiasa dengan acara haulan, tidak pernah mempermasalahkan ketika harus datang ke acara haulan keluarga Abah.
Mama selalu bilang, ‘Niat Mama pergi ke sana untuk silaturrahmi dengan mertua dan keluarga Abah’.

Masalah qunut?
Benar-benar bukan masalah di keluarga kami.
Kalau Abah jadi imam dan beliau qunut, kami ya ngikut saja. Kan imam harus diikuti?
Kalau saya sholat subuh sama Mama, beliau ga pakai qunut, ya asik-asik aja.

Tarawih 23 atau 11?
Ini agak lucu, menurut saya.
Kalau yang kita tahu, tarawihnya NU -mungkin- kan 23, dengan metode 2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-1 plus shalawat dan doa di antara salamnya.
Kalau Muhammadiyah kan 11 dengan metode 4-4-3 tanpa ada shalawat di antara salam.
Naah, kalau di rumah saya, kita sholat tarawih 11 rakaat, dengan metode 2-2-2-2-3 plus shalawat dan doa di antara salamnya.
Entahlah ini disebut fusion atau modifikasi atau apa, yang jelas inilah yang dikerjakan di rumah kami dan dibawa Abah ketika mengelola mushola di sebelah rumah dan menjadi imam di sana.
Dan sebelum tarawih di malam pertama Ramadhan, Abah selalu berkata kepada jamaah, ’11 atau 23 rakaat, keduanya pernah dikerjakan Rasulullah, jadi tidak perlu dipermasalahkan. Yang tidak sholat tarawih saja tidak berdosa, karena ini memang sholat sunnah’.

Ya, perbedaan tak lantas membuat kita harus terpecah belah kan?

Saya pernah bertanya kepada Mama, apa aja sih yang beda antara NU dan Muhammadiyah?
Kata Mama, “Tidak perlu mencari perbedaanya”.

Saya tidak ada maksud menjelekkan organisasi manapun dalam tulisan ini, saya hanya menceritakan sedikit kebiasaan di keluarga kami dan semoga bisa bermanfaat. Jujur saja, ilmu saya masih sedikit dan mungkin ada kekeliruan saya dalam menjelaskan hal apapun dalam tulisan ini.  Jadi saya mohon maaf dan tolong koreksinya.. ^^

Salam,
ArifahMarhamah

 

Footnote
Mama: Ibu
Abah: Ayah

Me, My Self and I

Talk to devil, talk to my self

Beberapa tahun yang lalu saya memutuskan membangun benteng ini.
4 tahun mungkin.
Saya harus mempertahankannya.
Paling tidak 2 tahun lagi, jika rencana Tuhan sesuai dengan harapan.

‘Plis deh, Tan. Cape gue bikinnya. Masa lu datang seenaknya pengen menggoyang pertahanan gue’

talk to devil: end

Me, My Self and I

kalau mau kantong muntah, minta sama Bung Ikhsan (loh?)

kan sudah saya bilang di sini “jangan kaget saat nanti menemui tulisan saya yang bernuansa galau-patah hati-cinta-suka cita”

kalau mengenal saya di dunia nyata, rasanya memang tak mungkin tulisan-tulisan bernada puitis, romantis dan sedikit  galau itu adalah tulisan saya. ^^

kalau inspirasi yang datang beriringan dengan mood  saya adalah sesuatu yang -mereka sebut- galau, apa mau dikata?

dan jika memang selalu galau yang menerpa kreatifitas saya, biar nanti saya buat Kompilasi Puisi dan Cerita Galau karya Arifah Marhamah :p

melihat reaksi teman-teman di sekitar (manusia-manusia d BLM), iseng-iseng saya ng’tweet:

“menulis, tulisan itu bisa menampilkan sisi lain dari seseorang. jadi, jangan muntah baca tulisan saya”

dan kalau memang mau muntah, Bung Ikhsan menyediakan kantong muntah di sini.

tulisan saya, memang saya yang membuat. tapi pandang tulisannya, bukan siapa yang menulis.

dan please, don’t be SIDERS yaa 😀

Salam Galau!

Random

Rasa


Rasa ini..
Tidak biasa..

Rasa yang aku tahu harusnya tidak boleh dibiarkan.

Rasa ingin bertemu untuk sekedar menatap.
Rasa ingin melihat, walau sekejap.
Rasa ingin memanggil tatkala bayangan berkelebat.
Rasa ingin menyentuh saat raga berhadap.

Aku tahu, ini adalah rasa yang terlarang.
Dilarang!
Karena rasa ini datang saat kehalalan belum dipegang.

Atau jangan-jangan..
Rasa ini hanya pelampiasan
atas rasa lain yang tak tersampaikan..

Aku rasa.. Kau rasa..
Ini harus dihentikan.

Random

Haruskah aku benci?

Aku benci saat harus mengalihkan pandangan darimu, padahal aku bisa lebih lama menatapmu.

Aku benci saat menyadari kau juga melihat ke arahku, dan mata kita bertemu, tapi aku tidak tahu apa arti pandangan itu.

Aku benci saat harus menekan perasaan ini dalam-dalam, padahal rasanya seperti gunung yang mau meletus.

Aku benci setiap saat kau bersikap baik padaku, padahal sikap itulah yang membuatku menyukaimu.

Aku benci saat harus berbicara denganmu, karena jantung ini tak bisa diajak kompromi untuk berhenti berdegup kencang.

Aku benci menjadi lemah padahal aku berusaha kuat sampai sekarang.

Aku benci kenyataan aku selalu seperti ini saat bertemu denganmu.

Dan haruskah aku membencimu pada akhirnya?

7 Agustus 2011, 11.59 AM

*)posted on my old blog at the same day